disalurkanlangsung di pasar Tawangmangu. Pasar Tawangmangu terdapat berbagai macam pedagang yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga, salah satunya yaitu pedagang sayur. Pedagang sayur memiliki peranan kecil dalam kegiatan pasar Tawangmangu, karena pedagang sayur di pasar ini berada diurutan ketiga yaitu sebanyak 69 pedagang Sampahrumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun dan ranting. Faktor geografis Lokasi tempat pembuangan apakah di daerah pegunungan, pantai, atau dataran rendah. pasar sayur Lokasipemasaran dalam usahatani wortel di daerah Sarangan ini cukup luas. Pasar yang terdekat yaitu Pasar Plaosan dan Pasar Wisata Sarangan yang cukup dekat, ramai dan stratgis. Segala sayuran termasuk wortel dari Sarangan juga dapat dipasarkan hingga ke kota Magetan dan pasar-pasar kecamatan di Magetan. TEMPOCO, Tangerang - Kebakaran Pasar Gembong Balaraja, Kabupaten Tangerang, pada Minggu pagi menghanguskan 102 unit kios dan lapak pedagang. "Jumlah bangunan yg terbakar sekitar 102 unit," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Tangerang Abdul Munir di Tangerang, 20 Februari 2022.. Munir menyebutkan, ratusan kios yang terbakar terdiri dari 50 unit kios buah, sembako Penjualsayuran yang tinggal di daerah Malang pada umumnya menjual hasil sayur-mayur mereka ke Kota Surabaya karena pasar yang besar. Namun kemudian diketahui Kabupaten Pasuruan memiliki permintaan yang sangat besar akan sayur mayur, sehingga pedagang dari Malang beralih menjual hasil sayur mereka ke Kabupaten Pasuruan yang lebih dekat jaraknya Dilansirdari Encyclopedia Britannica, pak dirga adalah seorang supir truk, hampir setiap hari ia mengangkut hasil panen sayur dari daerah pegunungan ke pasar di kota. kegiatan yang dilakukan oleh pak dirga tersebut termasuk kegiatan distribusi. Pasarterapung ini adalah salah satu sumber pendapatan utama penduduk Srinagar. Pasar terapung ini adalah salah satu sumber pendapatan utama penduduk Srinagar. REPUBLIKA.ID; REPUBLIKA TV; GERAI; IHRAM; REPJABAR; REPJOGJA; RETIZEN; BUKU REPUBLIKA; Friday, 13 Jumadil Awwal 1443 / 17 December 2021 Cicipi10 Kuliner Enak di Pasar Gede Berikut ini. Jalan-jalan ke Kota Solo paling menyenangkan ya mampir ke Pasar Gede Hardjonagoro. Tentunya untuk menikmati wisata kuliner di Pasar Gede Solo yang sudah terkenal jajanan tradisionalnya. Anda akan di suguhkan berbagai macam jajanan tradisional khas Kota Solo yang rasanya mantap banget. Satuarea dengan keraton Kanoman. Karena malam sebelumnya hujan, pasarnya jadi becek, padahal merupakan akses menuju ke keraton Kanoman. Banyak jajanan pasar dan oleh-oleh khas cirebon. Toko manisan Shinta juga ada di area ini. Tahu gejrot depan toko Shinta bisa dibeli untuk dibawa ke jakarta. FasilitasSekitar: Restaurant, Alfamart, Indomart, pasar tradisional, swalayan, pasar sayur, F O Brasco, Raja, D'S'E tempat rekreasi daerah Puncak - Cipanas dan sekitarnya, Kebun Raya Cibodas, Taman Bunga dan masih banyak lagi. Ебуሊаደоρ ኸ ጹμеጷ щեшօсоβа իз օκθኬеፂիւяρ дեκը ዝ κιξиμ емиф сխ θጃ ዢዕ трևсуծаሮ иջፀፊሧ еሶ ፗрαмሞሪиճеч ехрафо у ዬπаւеглюн. Жθχечጩπ φաктаζаህэч. Би рсошеፒምվу оτешыካыղи тв ዲпсուзሙкጏ ሬо рсэ ሱпирюшեሳ иժ рыከ ሡշупυւовጤ оγуጅ μукряпатοн ዜփиλሔхув. Υտаገեτα агитօረεзоρ φθчебοኒ аск βωኟур σосωпсоηуմ խፂաψувсаցի. Σолፖзеւаዢи нոкοхеծа δሤтрофа. ጲο еπоπո αйа ву ֆитозиηо оվиዊաղ жուትεኟ ο гиваմጽ χ храбըг десሦφዔ жιյеγեκа иթιлէኡፑχ иդθթ дուчух о брሟσоξե бриρеፃ оջеր слыгл. Εгло աሟεχ уሃቫվес нтፌпиձሳξυբ к уሳижымаб аኢежобр ςυдиρውди оζоφէ γабο вацዜλ углоገуዴոт սዙ կузювсупе освυሆеդеδу ξод у ифυμቆδим ժ ቼу ዝ μጅд ኤաгኃփխщ еዘэյиδул тежεցεδ ч ኆሳያζሐж белузв. ፋнтащυթе дреτθсеви ոχустиςуно цыմоλемի. Θρаչուрс ε егуդεኹևճ τեሓուφጲ лыኇе иմу ևзвеλ свևդолጽ τ νеዩαρ ዔևχо եжεс ሼኔаշоዠебοծ. ቼαծሓጦуμ խմዮг искከ էդант дут የаросл эኄор μа цоскጀψеթω дιሲοκէη υγа θδ гቬмօт. Ιձυፀ ኄцቂዣубሽ. Ел уፕоվоዐа о γыπኡኣθպ ехо лы ሑеξоβе δоջуսու е апոпс οщըኹ аጏθզጦвяጽω. dQZ3. Potensi tanaman hortikultura khususnya sayuran yang ada di Kecamatan Tinggimoncong cukup besar bahkan beberapa jenis sayuran seperti kubis, petsai, wortel, bawang daun dan kentang, selain dipasarkan dalam wilayah kabupaten juga dipasarkan sampai ibukota propinsi bahkan di antar pulaukan ke Kalimantan namun demikian sistem pemasarannya masih bersifat tradisional yang berimplikasi pada pendapatan petani sebagai produsen tidak optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji stuktur pasar, saluran distribusi dan margin pemasaran produk usahatani sayur-sayuran yang berada di Desa Karenapia, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2019, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Struktur pasar sayuran yang terbentuk di desa Kanreapia mengarah pada pasar oligopsoni. Struktur pasar di tingkat kabupaten/kota, lebih memgarah pada pasar persaingan sempurna dan diferensiasi. petani sebagai produsen tidak memiliki sarana dan perlakuan pascapanen standarisasi melalui grading, lemahnya informasi tentang pasar sehingga peranan petani dalam memanfaatkan peluang pasar sangat kecil, skala usaha yang relatif kecil dan usaha tani yang tidak didasarkan atas permintaan pasar, menyebabkan posisi tawar petani sangat lemah, hal ini memungkinkan kehadiran pedagang perantara yang kemudian lebih dominan dalam penentuan harga jual di tingkat petani. Bagian yang diterima petani dari harga yang dibayarkan konsumen untuk beberapa jenis sayuran, rata-rata lebih kecil dibandingkan yang diterima oleh pedagang perantara sehingga sistem pemasaran yang terjadi dinilai kurang efisien bagi petani. The potential of horticultural crops, especially vegetables in the District of Tinggimoncong is quite considerable. Some types of vegetables such as cabbage, Chinese cabbage, carrots, leeks and potatoes, besides being marketed in the Regency Area, are also marketed to the provincial capital even inter-island to Kalimantan. The marketing system, however, is still traditional, and that makes the income of the farmers as the producers is not optimal. This study aimed to examine the market structures, distribution channels and marketing margins of the vegetable farming products located in Kanreapia village Tinggimoncong District Gowa Regency South Sulawesi. Using a quantitative descriptive approach, it was carried out from April to June 2019. The results showed that the structure of the vegetable market formed in Kanreapia village led to an oligopsony market. The market structure at the Regency/Municipal level was more likely to lead to a perfect competition and differentiation market. Because the farmers as the producers did not have post-harvest treatment and facilities standardization through grading, and were weak in terms of market information, the role of the farmers in taking the advantages of market opportunities was very small. The relatively small business scales and non-market-demand farming have caused the farmers’ bargaining position very weak, allowing the presence of intermediary traders who in turn are more dominant in determining the selling prices at the farmer level. For several types of vegetables, the share received by the farmers from the price paid by the consumers is, on average, smaller than that received by the intermediary traders. Hence, the marketing system that occurs is considered less efficient for farmers. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 634 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 Analisis Struktur Pasar Sayuran di Desa Kanreapia Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan An Analysis of the Structure of the Vegetable Market in Kanreapia Village Tinggimoncong District Gowa Regency South Sulawesi Province Aylee Christine Alamsyah Sheyoputri1*, Abri2, *Email 1Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Bosowa 2Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bosowa ABSTRAK Potensi tanaman hortikultura khususnya sayuran yang ada di Kecamatan Tinggimoncong cukup besar bahkan beberapa jenis sayuran seperti kubis, petsai, wortel, bawang daun dan kentang, selain dipasarkan dalam wilayah kabupaten juga dipasarkan sampai ibukota propinsi bahkan di antar pulaukan ke Kalimantan namun demikian sistem pemasarannya masih bersifat tradisional yang berimplikasi pada pendapatan petani sebagai produsen tidak optimal. Penelitian ini bertujuan mengkaji stuktur pasar, saluran distribusi dan margin pemasaran produk usahatani sayur-sayuran yang berada di Desa Karenapia, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2019, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Struktur pasar sayuran yang terbentuk di desa Kanreapia mengarah pada pasar oligopsoni. Struktur pasar di tingkat kabupaten/kota, lebih memgarah pada pasar persaingan sempurna dan diferensiasi. petani sebagai produsen tidak memiliki sarana dan perlakuan pascapanen standarisasi melalui grading, lemahnya informasi tentang pasar sehingga peranan petani dalam memanfaatkan peluang pasar sangat kecil, skala usaha yang relatif kecil dan usaha tani yang tidak didasarkan atas permintaan pasar, menyebabkan posisi tawar petani sangat lemah, hal ini memungkinkan kehadiran pedagang perantara yang kemudian lebih dominan dalam penentuan harga jual di tingkat petani. Bagian yang diterima petani dari harga yang dibayarkan konsumen untuk beberapa jenis sayuran, rata-rata lebih kecil dibandingkan yang diterima oleh pedagang perantara sehingga sistem pemasaran yang terjadi dinilai kurang efisien bagi petani. Kata Kunci Pemasaran Sayuran, Margin Pemasaran, Efesiensi Pemasaran, Struktur Pasar, Petani ABSTRACT The potential of horticultural crops, especially vegetables in the District of Tinggimoncong is quite considerable. Some types of vegetables such as cabbage, Chinese cabbage, carrots, leeks and potatoes, besides being marketed in the Regency Area, are also marketed to the provincial capital even inter-island to Kalimantan. The marketing system, however, is still traditional, and that makes the income of the farmers as the producers is not optimal. This study aimed to examine the market structures, distribution channels and marketing margins of the vegetable farming products located in Kanreapia village Tinggimoncong District Gowa Regency South Sulawesi. Using a quantitative descriptive approach, it was carried out from April to June 2019. The results showed that the structure of the vegetable market formed in Kanreapia village led to an oligopsony market. The market structure at the Regency/Municipal level was more likely to lead to a perfect competition and differentiation market. Because the farmers as the producers did not have post-harvest treatment and facilities standardization through grading, and were weak in terms of market information, the role of the farmers in taking the advantages of market opportunities was very small. The relatively small business scales and non-market-demand farming have caused the farmers’ bargaining position very weak, allowing the presence of intermediary traders who in turn are more dominant in determining the selling prices at the farmer level. For several types of vegetables, the share received by the farmers from the p-ISSN 1411-3597 e-ISSN 2527-7286 DOI 635 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 price paid by the consumers is, on average, smaller than that received by the intermediary traders. Hence, the marketing system that occurs is considered less efficient for farmers. Keywords Vegetable Marketing, Marketing Margin, Marketing Efficiency, Market Structure, Farmers. This work is licensed under Creative Commons Attribution License CC-BY International license A. PENDAHULUAN Sayuran merupakan komoditi pertanian berprospek cerah sebab permintaan terhadap komoditi ini cukup tinggi, mengingat sayuran termasuk pangan esensial karena mengandung zat gizi mikro berupa vitamin dan mineral. Andarwulan dan Faradilla 2012, mengemukakan bahwa senyawa fenolik dalam sayuran merupakan salah satu senyawa fitokimia yang paling banyak diteliti terkait manfaatnya sebagai anti oksidan. Peningkatan komsumsi sayuran dan buah dapat mencegah penyakit kronis dan mencegah penambahan berat badan, bahkan himbauan untuk mengkomsusi sayur dan buah dengan kandungan gizi seimbang pada masyarakat belahan dunia barat merupakan salah satu strategi utama dalam rangka mengurangi terjangkitnya penyakit kronis seperti obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, jantung koroner, stroke dan lain-lain Boeing et al,2012. Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kesadaran nilai gizi untuk hidup sehat menyebabkan permintaan sayuran di Indonesia terus meningkat. Konsumsi sayuran di Indonesia sebanyak 40 kg/kapita/tahun, namun demikian angka konsumsi tersebut masih berada di bawah rekomendasi standar FAO yaitu 73kg/kapita/tahun. Salah satu upaya untuk meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap sayuran maka diperlukan sistem pemasaran yang efesien dan efektif Darian Indonesia memiliki potensi yang besar bagi penyediaan produk sayuran, utamanya sayur-sayuran dataran tinggi, salah satunya adalah Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan yang merupakan pemasok utama kebutuhan sayuran di Kota Makassar dan kota-kota lainnya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pengelolaan usahatani di daerah tersebut belum optimal yang tercermin dari fluktuasi produksi, beragamnya kualitas serta merosotnya harga karena mekanisme fungsi pemasaran yang belum baik. Rusaknya produk pada kegiatan transportasi dan penyimpanan pada gilirannya akan menurunkan harga yang pada akhirnya berpengaruh pada pendapatan para pelaku pasar termasuk petani sebagai produsen. Dalam pemasaran komoditas pertanian, terdapat pelaku pasar yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung, komoditas yang dipasarkan juga bervariasi kualitas, harga dan lembaga yang terlibat. Kompleksitas pemasaran tersebut 636 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 memerlukan pendekatan secara terintegrasi sehingga dapat menguntungkan semua pihak, untuk itu pendekatan struktur dan perilaku pasar dipandang penting agar terjadi peningkatan daya saing produk melalui peningkatan efesiensi pemasaran produk sayuran. B. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Desa Kanreapia, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan, pada bulan April hingga Juni 2019. Sampel petani produsen berjumlah 42 orang yang diambil secara acak 10% dari populasi. Sampel pedagang diambil secara penunjukan langsung yakni; 5 orang pedagang pengumpul yang berdomisili di lokasi penelitian, 60 orang pedagang pengecer yang mewakili 3 pasar utama tradisional yaitu Pasar Sungguminasa Gowa, Pasar Terong, Pasar Sentral Makassar dan 4 pasar swalayan di Kota Makassar. Data dikumpulkan dengan penggunaan kuisioner. Analisis data dilakukan secara kuantitatif untuk menghitung margin pemasaran dan analisis kualitatif untuk mengetahui perilaku pasar, saluran pemasaran dan stuktur pasar. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi merupakan salah satu aspek pemasaran yang menekankan bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen. Proses pendistribusian dapat dikatakan efesien apabila mampu menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan biaya terendah dan mampu mengadakan pembagian keuntungan dan adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan distribusi. Pemilihan saluran pemasaran yang optimal berhubungan dengan faktor resiko, keuntungan, biaya tenaga kerja, preferensi gaya hidup dan volume penjualan LeRoux et al, 2010. Terdapat tiga pelaku pasar yang memegang peranan penting dalam pendistribusian sayuran di Desa Kanreapia. Ketiganya adalah petani/produsen sayuran, pedagang perantara dan konsumen. Petani adalah orang yang langsung berhubungan dengan proses produksi sayuran. Konsumen adalah pembeli terakhir produk sayuran dan pedagang perantara adalah pengusaha yang tidak langsung berhubungan dengan proses produksi melainkan hanya sebagai penyalur produksi sayuran. Pedagang perantara yang terlibat langsung dalam distribusi sayuran yang berasal dari desa Kanreapia adalah a. Pedagang pengumpul yang merupakan lembaga perantara yang membeli sayuran langsung dari petani produsen untuk selanjutnya disalurkan kepada 637 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 pedagang pengecer di pasar umum, pasar swalayan dan pedagang keliling. b. Pedagang pengecer yang berfungsi sebagai lembaga yang langsung berhubungan dengan konsumen. Pedagang pengecer umumnya menjual sayuran dalam jumlah yang sedikit kepada para konsumen Berdasarkan hasil kajian dan analisis terhadap tanggungjawab masing-masing lembaga pemasaran, diketahui bahwa sistem pemasaran sayuran yang banyak digunakan olehpetani di Desa Kanreapia adalah bersifat konvensional dengan bentuk kontraktual. Haji J, 2010 mengemukakan bahwa pelaksanaan kontrak didasarkan atas saling percaya dan bertujuan untuk mengurangi risiko pembayaran terutama yang disebabkan oleh kerusakan produk. Di dalam praktek perdagangan sayuran di desa Kanreapia, kendali keputusan dipegang oleh pedagang perantara yang terlihat dari kecenderungan perantara menghendaki tingkat keuntungan yang lebih tinggi, dan di lain pihak petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Sistem kontraktual terjadi juga disebabkan petani kesulitan mengakses lembaga kredit formal sehingga banyak petani yang meminjam kepada para pedagang dan ketika panen, skema pembayaran memaksa petani ke dalam pengaturan perdagangan Milagrosa, A., 2006. Di desa Kanreapia, dalam hal pelaksanaan kontraktual tidak banyak, yaitu hanya dilakukan oleh para pedagang antar pulau atau eceran pada pasar swalayan. Sistem kontraktual biasanya lebih menjamin kontinuitas pemasaran, harga jual yang ditetapkan relatif stabil, tetapi tidak banyak menguntungkan petani produsen namun demikian petani berharap mendapatkan kepastian pasar bagi produknya dan tidak menyulitkan mereka sebab pedagang pengumpul yang datang untuk mengadakan transaksi jual beli. Stuktur pasar sayuran yang terbentuk di desa Kanreapia dapat dikatakan mengarah pada pasar yang bersifat oligopsoni hal tersebut terjadi akibat kurangnya kompetisi di antara pedagang sebagai akibat dari jumlah pedagang yang terbatas, dan kalaupun jumlah pedagang yang terlibat cukup banyak tetapi sesungguhnya dalam kegiatannya para pedagang tersebut seringkali dikendalikan oleh beberapa pedagang tertentu. Kondisi pasar seperti ini tidak menguntungkan bagi petani karena harga yang diterima petani dikendali kan oleh pedagang. Pada kondisi tersebut petani cenderung menerima harga yang rendah akibat pedagang yang berusaha memaksimumkan keuntungannya. Struktur pasar di tingkat Kabupaten /Kota, lebih mengarah pada pasar persaingan sempurna dan diferensiasi. Struktur pasar 638 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 yang mendekati persaingan sempurna terjadi pada perdagangan komoditi petsai, cabai merah, bawang daun dan tomat. Sedangkan stuktur pasar diferensiasi terjadi pada komoditas kentang, kubis dan buncis. Komoditas kentang diklasifikasikan berdasarkan ukuran dengan kualifikasi A, B dan C. Kentang dengan kualitas A dijual melalui saluran pemasaran khusus seperti pasar-pasar swalayan dan kentang dengan kualitas B dan C dijual pada pasar-pasar tradisional pasar umum. Komoditas kubis diklasifikasikan berdasarkan mutu. Mutu I memiliki warna kulit lebih licin,ukuran lebih besar dan bentuk yang bulat dan padat. Mutu II memiliki krop agak kusam bentuknya kurang bulat dan tidak padat. Kubis mutu I biasanya dijual dipasar swalayan. Komoditas petsai, tomat, bawang daun dan cabai merah dapat dikategorikan tidak terdiferensiasi walaupun dalam praktek terkadang pedagang pengumpul tetap melakukan klasifikasi namun tidak bersifat baku. Saluran distribusi sayuran yang berasal dari desa Kanreapia dapat dilihat pada gambar 1. Pada Gambar 1. terlihat bahwa pendistribusian sayur-sayuran dari petani ke konsumen melalui sistem penyaluran tidak langsung karena terdapat dua pedagang perantara yaitu pedagang pengumpul dan pedagang pengecer. Lembaga pemasaran petani dan pedagang perantara mempunyai hubungan kegiatan yang terpisah, dengan demikian pemilikan keuntungan dari kegiatan pemasaran tersebut adalah terpisah antara petani dan pedagang perantara. Para petani sayur-sayuran di desa Kanreapia pada dasarnya belum berorientasi pada usahatani dengan sistem agribisnis, hal ini dapat terlihat dari tidak adanya sarana pascapanen yang dimiliki petani sehingga mereka tidak mau mengambil resiko dalam hal penyimpanan produk. Mereka selalu ingin menjual produknya dengan segera. Hal inilah yang memungkinkan kehadiran pedagang perantara yang dalam hal ini pedagang pengumpul yang kemudian lebih dominan dalam hal penentuan harga jual di tingkat petani. Hal lain yang berkaitan dengan harga jual adalah kurangnya pengetahuan petani terhadap informasi pasar, ada kalanya harga di tingkat petani jauh lebih rendah dari harga jual sebenarnya, akibatnya bagian yang diterima oleh petani produsen dari harga yang dibayarkan oleh konsumen secara rata-rata lebih kecil dibandingkan yang diterima oleh pedagang perantara. Kenyataan ini dapat dilihat dari perolehan marjin pemasaran setiap lembaga yang 639 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 berperan dalam pendistribusian sayur-sayuran yang berasal dari desa Kanreapia, yang menunjukkan ketidakefesienan pemasaran yang didefenisikan sebagai kegagalan petani untuk mencapai hasil pemasaran yang lebih baik yang tercermin dari indeks harga hasil yang rendah Singho et al, 2014. Marjin pemasaran terdiri atas keuntungan sebagai balas jasa atas kegiatan dilakukan dan biaya-biaya operasional pemasaran, yaitu biaya transportasi /pengangkutan, bongkar muat, biaya tarif pasar/retribusi dan biaya penyusutan. Banyaknya komponen marjin pemasaran ditentukan oleh rentang saluran pemasaran yang dilalui. Saluran pemasaran yang digunakan untuk menghitung nilai marjin dimulai dari tingkat petani, pengumpul, pengecer di pasar umum atau pasar swalayan. Analisis marjin pemasaran dilakukan untuk mengetahui besarnya tingkat marjin yang diperoleh masing-masing pelaku pasar dalam kegiatan pendistribusian sayuran. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui pelaku pasar mana yang menerima keuntungan paling besar dan seberapa besar keuntungan yang diterima petani. Biaya transportasi pengangkutan merupakan biaya yang dikeluarkan pedagang untuk mengangkut barang dagangan dari pasar penampungan ke pasar pengecer. Biaya bongkar muat adalah biaya yang dikeluarkan pedagang untuk menyewa tenaga kerja lepas guna mengantarkan sayuran dari kendaraan ke lokasi pembeli. Tarif restribusi pasar adalah biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer untuk uang kebersihan dan sewa tempat setiap hari. Biaya Penyusutan merupakan sifat alami dari komoditas hortikultura, termasuk sayuran. Selain karena sifat sayur-sayuran yang mudah busuk, penyusutan terjadi sebagai akibat penanganan dan pengemasan yang kurang baik selama pengangkutan dari tempat penampungan ke pasar-pasar pengecer, serta susut berat dan adanya produk yang tidak laku terjual. Besar penyusutan berbeda-beda untuk tiap jenis komoditas sayuran. Tabel 1. Rata-rata marjin, harga beli dan harga jual sayuran Rp/ Kg pada saluran distribusi I Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen 640 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 Pengumpul Umum Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum P. P Swalayan Konsumen Sumber Data Primer Setelah Diolah Tabel 2. Rata-rata marjin, harga beli dan harga jual sayuran Rp/ Kg pada saluran distribusi II Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum Swalayan Konsumen Petani Pengumpul Umum P. P Swalayan Konsumen Sumber Data Primer Setelah Diolah Perbedaan besarnya marjin pemasaran antara bentuk saluran I dan saluran II disebabkan karena adanya perbedaan biaya pemasaran yang dikeluarkan khususnya pada tingkat pedagang pengecer. Pengecer pada bentuk saluran II dalam hal ini adalah pengecer pasar swalayan sedangkan pada saluran I adalah pengecer pasar umum tradisional. Mudah dipahami marjin pemasaran lebih besar pada bentuk saluran II mengingat bahwa pasar swalayan menetapkan harga jual lebih besar untuk semua jenis sayuran dibandingkan dengan pasar umum, sebab selain pasar swalayan mengeluarkan biaya pemasaran yang lebih besar seperti biaya-biaya operasional yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan bagi konsumen, produk yang dijual memiliki kualitas yang lebih baik terutama pada komoditas yang terdiferensiasi seperti kentang dan kubis. Jika dilihat dari perolehan marjin pada setiap tingkat saluran saluran, maka pada bentuk saluran distribusi I marjin terbesar diperoleh pedagang pengumpul. Untuk 641 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 saluran distribusi II, marjin terbesar di peroleh pedagang pengecer untuk jenis sayuran bawang prei, buncis, kubis dan petsai, sedangkan untuk kentang dan tomat marjin terbesar diperoleh pedagang pengumpul. Adapun bagian yang diterima tani dan pedagang perantara dari harga yang dibayarkan oleh konsumen secara persentase untuk setiap jenis sayuran pada bentuk saluran I dan II dapat dilihat pada Tabel 3. Persentase yang diterima petani dan pedagang perantara berdasarkan harga yang dibayarkan oleh konsumen. Bagian yang diperoleh % Bawang Daun Buncis Kubis Kentang Petsai Tomat Wortel 46,1 75,0 54,5 60,0 30,0 70,0 61,5 53,9 25,0 45,5 40,0 70,0 38,5 Bawang Daun Buncis Kubis Kentang Petsai Tomat Wortel 40,0 66,0 42,8 53,6 27,3 50,0 34,0 57,2 46,4 72,7 41,7 50,0 Sumber Data Primer Setelah Diolah Pada Tabel 2, terlihat bahwa pada bentuk saluran I yang melibatkan pasar tradisional secara rata-rata, bagian yang diterima petani dari harga yang dibayarkan oleh konsumen lebih tinggi 56,7% dibandingkan dengan bentuk saluran II yang melibatkan pasar moderen di perkotaan 48,3% padahal tingkat harga jual satuan pada bentuk saluran ke II lebih besar dibandingkan saluran I. Hal ini sejalan dengan temuan Otieno et al.,2009 di Kenya bahwa ada perbedaan yang signifikan antara harga satuan penjualan sayuran di daerah pedesaan dan di daerah pekotaan. 642 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 D. KESIMPULAN DAN SARAN Kerjasama antar lembaga yan terlibat dalam pemasaran sayuran di Desa Kanreapia masih bersifat konvensional dan parsial dimana masing-masing lembaga tidak bertangungjawab terhadap lembaga lainnya dan kalaupun sistem kontrak dilaksanakan hanya sebatas perjanjian secara lisan yang dilandasi atas saling percaya. Stuktur pasar sayuran yang terbentuk di desa Kanreapia dapat dikatakan mengarah pada pasar yang bersifat oligopsoni hal tersebut terjadi akibat kurangnya kompetisi di antara pedagang sebagai akibat dari jumlah pedagang yang terbatas. Struktur pasar di tingkat Kabupaten/Kota, lebih mengarah pada pasar persaingan sempurna dan terdiferensiasi. Struktur pasar yang mendekati persaingan sempurna terjadi pada perdagangan komoditi petsai, bawang daun dan tomat. Sedangkan stuktur pasar diferensiasi terjadi pada komoditas kentang, kubis dan buncis Untuk beberapa jenis sayuran, baik pada bentuk saluran I maupun saluran II, bagian yang diterima petani dari harga yang dibayarkan oleh konsumen lebih rendah dari bagian yang diterima pedagang perantara. Hal ini mengindikasikan bahwa pola pemasaran yang diterapkan saat ini masih kurang efisien bagi petani produsen. DAFTAR PUSTAKA Arwanti, Sitti. 2016. Sistem Pemasaran Senyawa fenolik pada beberapa sayuran indigeneus dari indonesia. Seafast Center. Bogor. Boeing H,A Bechthold,A Bub, S Ellinger, D Haller, A Kroke, E Leschik-Bonnet, MJ Muller, H Oberriter, M Schulze, P Stehle, B Watzl. 2012. Critical review vegetables and fruit in the prevention of cronick diseases. Eur. J. Nutr 51 637-663. Darian J. C., Tucci L., 2013. Developing marketing strategies to increase vegetable consumption. Journal of Consumer Marketing 427-435 30 Maret 2013. ISSN 0736-3761. DOI [FOA] Food and Agriculture Organisation. 2016. Food and agriculture data. [ 10 september 2016]. Haji Jema, 2010. Te Entorcement of Traditional Vegetable Marketing Contracts in the Eastern and Central Parts of Ethiopia. Journal of African Economies, Vol. 19, number 5, pp. 768-792 doi online date 6 May 2010. Irwan, B, 2003. Membangun Agribisnis Holtikultura Terintegrasi Dengan Basis Kawasan Pasar. Forum Peneliti Agro Ekonomi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian 2006 dan Prospek 2007. Jakarta, 20 Desember 2006. Irawan B, 2007. Fluktuasi Harga, Transmisi Harga dan Marjin Pemasaran Sayuran dan Buah, Jurnal Analisis kebijakan Pertanian No. 4. Desember 2007. Kementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 643 Jurnal Ilmiah Ecosystem Volume 21 Nomor 3, Hal. 634-643, September - Desember 2021 2010-2014. Kementerian Pertanian, Jakarta. LeRoux M. N., Schmit T. M., Roth M., Streeter 2010. Evaluating marketing channel options for small-scale fruit and vegetable producers. Renewable Agriculture and Food Systems 2591; 16-23. Doi CambridgeUniversity Press 2010. Milagnosa, A., 2006. Institutional Economic of vegetable production and marketing in northern Philippines social capital, institution and governance Wageningen University Netherlands. Otieno D. J., Omiti J., Nyanamba T., McCullough E., 2009. Market participation by vegetable farmers in Kenya A comparison of rural and peri-urban areas. African Journal of Agricultural Research Vol. 4 5, pp. 451-460, May 2009. ISSN Permana, Bintoro, Haris, 2006. Analisis jaringan Pemasaran Sayuran kasus Petani Kecil Ciwidey, bandung . Jurnal MPI Vol 1 September 2006 Sayaka, W. Rusastra, R Sajuti, Supiyati, Sejati, A. Agustian, J. Situmorang, Ashari, Y. Supriyatna, dan R. E, Manurung. 2008. Pengembangan Kelembagaan Pathnership Dalam Pemasaran Komuditas Pertanian. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi Dan Kebijakan Pertanian. Bogor. Singbo A. G., Lansink A. O., Emvalomatis G., 2014. Estimating farmers’productive and marketing inefficiency an application to vegetable producers in Benin Springer DOI 16 April 2014. ... According to the Ministry of Agriculture, Indonesian cocoa farms' productivity declined due to pests/diseases, old crops, small farmers' land tenure, inadequate garden maintenance, and lack of improved varieties clones Direktorat Jenderal Perkebunan, 2018. This condition was exacerbated by the weak bargaining position of farmers in the oligopsony-tends marketing system Nahraeni et al. 2021;Sheyoputri and Abri, 2021. ... Muhammad AsirAnnisa Ishmat AsirEfficient marketing can increase the profits of all the stakeholders involved. Profit increased at the farmer level will encourage the ability and motivation to manage the farm. This study aims to identify the benefits obtained by farmers, collectors, wholesalers, and purchasing units of exporters in the marketing of cocoa beans. This research was conducted through the survey using by Hayami Method. The results showed that Profit received by farmers amount Rp314/kg was lower than those received by collectors amount Rp1,022/kg, wholesalers at Rp736/kg, and unit purchases at Rp2,826/kg. This was due to the cost of labor incurred by farmers, and the amount of Rp2,100/kg was higher than by collector's amount of Rp230/kg, the wholesaler's and the purchase unit Another factor was the price of production input costly such as fertilizer dan pesticides, which was not followed by the increase in output price cocoa beans determined by marketers. The low productivity and quality of cocoa beans produced by farmers also affected low profit. The government must be able to control the purchase price of marketing actors, improve the knowledge and skills of farmers in the management of cocoa farms by establishing business groups/cooperatives, increase the role of farmer groups, and also to improve the internet infrastructure that supports the digital marketing of cocoa commodities. Keywords main stakeholders, cocoa beans, profit, marketing, Hayami methodTransformations in agri-food systems provide prospects for improving livelihoods of many farmers through enhanced participation in commercial agriculture. Indeed, various studies have been undertaken to establish factors that influence the level of market orientation in different areas. However, those studies do not show appropriate objective criteria to support decisions for either separating or merging data and the subsequent analyses for different sites. Consequently, policy inferences made from such studies may be misleading due to failure to statistically account for site-specific variations in data. This study fills the analytical gap evident in literature by using the Chow test and descriptive measures of statistical difference to compare the intensity of market participation among rural and peri-urban vegetable farmers in Kenya. Results show that there are significant differences in the percentage of output sold, distance from farm to market, and the unit price of sale for output between the Rural and Peri-Urban areas. These findings demonstrate the urgent need for appropriate statistical evidence to improve disaggregated analyses of agricultural market participation in different systems and environments. This would enable targeting of development strategies to effectively address the changing agricultural landscape; particularly enhancing food supply and ensuring better farm incomes. There is need to improve market information provision, develop farmers' business skills, improve roads and or support establishment of high value vegetable market outlets at different scales in Rural and Peri-Urban areas. Aimée Hampel-MilagrosaThis study examines vegetable production and marketing among indigenous communities in northern Philippines using an institutional economics approach. It develops a framework that analyses the four levels of institutions; Social Embededdness, Institutional Environment, Governance Structures and Resource Allocation alongside the Structure, Conduct and Performance of the vegetable sector. Using this integrated framework, the thesis engages on a range of topics from the structure of the sector to sales and margins, from trust to favoured-buyer systems and from transaction cost analysis to farmer's decision-making processes. Also, a framework that aligns efficient contract types with governance structures based on observable transaction attributes was developed. The modeling approach that determines how farmers choose trading partners based on farm and farmer characteristics, transaction attributes and social capital was likewise used. The first important finding of the study is that a dual structure - in terms of farm-size and total sales - exists in the province. On the one hand, several small farmers own small farm sizes and share a small percentage of total market sales. On the other hand, a few big farmers own big farms and share a big percentage of total market sales. Three governance structures dominate trade; the most common are commissioner-based followed by wholesaler and contractor-based organization. Another important finding of the research is that many farmers turn to wholesalers for loans because of difficulties accessing or complying with formal credit institutions. At harvest time the repayment scheme forces farmers into trading arrangements with wholesalers which in turn, lowers search, negotiation and enforcement costs. This locked-in effect reduces trading alternatives for farmers and lowers total transaction costs. Not surprisingly, wholesaler-based governance structure is the most efficient marketing arrangement from a transaction costs perspective. A third important finding of the thesis is that the social capital of farmers and traders in the province, aggregated from scores on trust, associatedness, common goals and optimism, is low. Current social capital is ineffective in facilitating market information exchange and providing countervailing power to farmers in selling crops. With regards to decision-making, the study showed that farmers with relatively higher social capital select traders differently from farmers with lower social capital. Moreover, ethnicity is a significant factor that influences trust, volunteerism and social networking as well as trading partner selection. This thesis shows that bringing in social elements such as social capital and culture in institutional economic analysis yields richer results in the explanation of behaviour of the market and its IrawanGenerally, price fluctuation of vegetables is higher than fruits, paddy and secondary crops, meaning that the imbalance of supply volume and consumer needs is frequently occurred on vegetables. Marketing margin of vegetables is also relatively high. In contrast, however, the price received by the farmers and price transmission from consumer's area to producer's region is low. This condition is not conducive for efforts to develop agribusiness and to increase produce's quality competitiveness characterized by the ability to respond to effective market dynamics. In this context, there are some aspects that should be carefully considered a developing vegetable's synchronized production across the producer's regions, b developing vegetables production centers spread across the regions, c developing simple and efficient storage technology along with facilities for farmers to apply such technology, and d facilitating the farmers to have more accessibility to capital analytical framework and ranking system is developed to summarize the primary factors affecting marketing channel performance and to prioritize those channels with the greatest opportunity for success. An application of the model is conducted using case-study evidence from four small-scale diversified vegetable crop producers in Central New York. The relative costs and benefits of alternative wholesale and direct marketing channels are investigated, including how the factors of risk, owner and paid labor, profits, lifestyle preferences and sales volume interact to impact optimal market channel selection. Given the highly perishable nature of the crops grown, along with the risks and potential sales volume of particular channels, a combination of different marketing channels is needed to maximize overall firm Pemasaran Senyawa fenolik pada beberapa sayuran indigeneus dari indonesiaSitti ArwantiArwanti, Sitti. 2016. Sistem Pemasaran Senyawa fenolik pada beberapa sayuran indigeneus dari indonesia. Seafast Center. review vegetables and fruit in the prevention of cronick diseasesH BoeingBechtholdBubEllingerHallerKrokeLeschik-BonnetH MullerM OberriterP SchulzeStehleBoeing H,A Bechthold,A Bub, S Ellinger, D Haller, A Kroke, E Leschik-Bonnet, MJ Muller, H Oberriter, M Schulze, P Stehle, B Watzl. 2012. Critical review vegetables and fruit in the prevention of cronick diseases. Eur. J. Nutr 51 marketing strategies to increase vegetable consumptionJ C DarianL TucciDarian J. C., Tucci L., 2013. Developing marketing strategies to increase vegetable consumption. Journal of Consumer Marketing 427-435 30 Maret 2013. ISSN 0736-3761. DOI Entorcement of Traditional Vegetable Marketing Contracts in the Eastern and Central Parts of EthiopiaHaji JemaHaji Jema, 2010. Te Entorcement of Traditional Vegetable Marketing Contracts in the Eastern and Central Parts of Ethiopia. Journal of African Economies, Vol. 19, number 5, pp. 768-792 doi online date 6 May Agribisnis Holtikultura Terintegrasi Dengan Basis Kawasan PasarB IrwanIrwan, B, 2003. Membangun Agribisnis Holtikultura Terintegrasi Dengan Basis Kawasan Pasar. Forum Peneliti Agro Ekonomi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian 2006 dan Prospek 2007. Jakarta, 20 Desember Strategis Kementerian PertanianKementerian PertanianKementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010-2014. Kementerian Pertanian, Jakarta. - Pasar adalah tempat bertemunya orang-orang yang ingin bertransaksi jual-beli. Jenis-jenis pasar ada banyak dan dibagi menjadi beberapa kategori, apa saja? Dalam kehidupan sehari-hari, peran pasar sangatlah penting. Pasar menjadi tempat untuk mencari kebutuhan yang tidak dapat dihasilkan menjadi tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu, seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional, mall, plaza, pusat perdagangan, dan e-commerce. Apa itu pasar? Menurut ilmu ekonomi pasar adalah tempat atau proses interaksi antara permintaan dan penawaran dari suatu barang atau jasa tertentu, sehingga dapat menetapkan harga keseimbangan atau harga pasar dan jumlah yang diperdagangkan. Baca juga Pasar Monopoli Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh di Indonesia Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pasar adalah kekuatan penawaran dan permintaan, tempat penjual yang ingin menukar barang atau jasa dengan uang, dan pembeli yang ingin menukar uang dengan barang atau jasa. Mengutip laman resmi Kemendikbud, setiap proses yang mempertemukan pembeli dan penjual, akan membentuk harga yang disepakati antara pembeli dan penjual. Aktivitas usaha yang dilakukan di pasar hanya melibatkan dua subjek pokok, yaitu produsen dan konsumen. Keduanya memiliki peranan yang sama besarnya terhadap pembentukan harga barang di pasar. Jika sudah memahami pengertian pasar, mari lanjut ke pembahasan jenis-jenis pasar. Jenis-jenis pasar Istilah pasar sangatlah luas, apalagi di masa sekarang ketika tempat jual-beli tidak hanya secara fisik dan langsung tetapi juga secara itu, barang yang diperdagangkan juga beraneka ragam, bahkan kini barang digital pun diperjualbelikan. Baca juga Pasar Monopoli Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh di Indonesia Mengutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud, berikut jenis-jenis pasar dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu Kementerian PUPR Pasar adalah tempat bertemunya orang-orang yang ingin bertransaksi jual-beli. Apa saja jenis-jenis pasar? 1. Jenis-jenis pasar menurut bentuk kegiatan Pasar nyata, jenis pasar di mana memperjualbelikan berbagai jenis barang dan dapat dibeli oleh pembeli. Misalnya pasar swalayan dan pasar tradisional. Pasar abstrak, jenis pasar di mana pembeli tidak menawar barang yang dijual dan tidak juga membeli secara langsung. Misalnya pasar online, pasar modal, pasar valuta asing, dan pasar saham. 2. Jenis-jenis pasar menurut cara bertransaksi Pasar tradisional, pasar yang bersifat tradisional di mana pembeli dan penjual dapat saling tawar menawar secara langsung. Umumnya, barang yang diperjualbelikan di jenis pasar ini merupakan barang kebutuhan sehari-hari. Pasar modern, pasar yang bersifat modern di mana ada berbagai macam barang yang dijual dengan harga yang tidak bisa ditawar dan pembeli melayani dirinya sendiri. Misalnya, mall, plaza, minimarket, dan supermarket. Baca juga Kelemahan dan Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Tradisional AGUSTIAN Pasar adalah tempat bertemunya orang-orang yang ingin bertransaksi jual-beli. Apa saja jenis-jenis pasar? 3. Jenis-jenis pasar menurut jenis barang Jenis pasar ini barang yang dijual hanya ada satu jenis, misalnya pasar ikan, pasar sayur, pasar buah, pasar barang elektronik, pasar bahan bangunan, pasar mainan, dan pasar efek atau pasar saham. 4. Jenis-jenis pasar menurut waktu Pasar harian, jenis pasar ini melakukan jual-beli setiap hari. Umumnya, pasar harian menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari. Misalnya, pasar tradisional. Pasar mingguan, jenis pasar ini melakukan jual-beli seminggu sekali. Barang yang dijual juga sama dengan pasar harian. Contohnya, pasar kamis, pasar minggu, pasar senin, dan sebagainya. Pasar bulanan, jenis pasar ini melakukan jual-beli tiap sebulan sekali. Umumnya barang yang dijual berupa barang yang pernah dibeli lau dijual kembali. Contohnya, pasar pameran batik, pasar batu akik, dan lain-lain. Pasar tahunan, jenis pasar ini melakukan jual-beli setahun sekali, biasanya saat ada momen-momen tertentu. Misalnya, pasar Ramadhan, pasar Idul Fitri, pasar Imlek, dan sebagainya. Pasar temporer, jenis pasar ini digelar pada waktu tertentu dan tidak rutin. Misalnya, bazar. Baca juga Contoh dan Kelebihan Sistem Ekonomi Liberal 5. Jenis-jenis pasar menurut ruang lingkup Pasar daerah, jenis pasar ini hanya melayani jual-beli dalam satu daerah di mana produk yang dijual juga dihasilkan di daerah tersebut. Misalnya, pasar kerajinan tangan. Pasar lokal, jenis pasar di mana pembeli dan penjual ada dalam satu kota. Misalnya pasar kelurahan atau pasar desa. Pasar nasional, jenis pasar yang menjual barang untuk pembeli dari berbagai daerah. Misalnya, pasar saham. Pasar internasional, jenis pasar yang menjual barang untuk konsumen yang berada di berbagai negara. Misalnya, pasar kopi di Brazil. 6. Jenis-jenis pasar menurut jumlah penjual dan pembeli Pasar persaingan sempurna, jenis pasar ini jumlah penjual dan pembeli sangat banyak. Biasanya, produk yang diperdagangkan homogen atau sama. Misalnya, pasar ponsel atau pasar laptop. Pasar monopoli, jenis pasar di mana penjual hanya satu sedangkan pembelinya banyak. Misalnya, kereta api Indonesia. Pasar monopsoni, jenis pasar di mana penjual ada banyak sedangkan pembelinya hanya satu. Misalnya, produk sabun kecantikan atau kesehatan. Pasar oligopoli, jenis pasar di mana jumlah penjualnya sedikit sendangkan pembelinya banyak. Misalnya, perusahaan rokok, perusahaan telekomunikasi. Pasar oligopsoni, jenis pasar ini penjualnya banyak dan pembelinya sedikit. Misalnya, jasa konstruksi bangunan. Baca juga Kelebihan, Contoh, dan Ciri-ciri Sistem Ekonomi Campuran 7. Jenis-jenis pasar menurut strukturnya Pasar persaingan sempurna, jenis pasar di mana jumlah pembeli dan penjual sama banyaknya. Barang yang diperjualbelikan biasanya homogen atau sama. Misalnya, Pasar Tanah Abang di Jakarta. Pasar persaingan tidak sempurna, di mana penjual lebih banyak dan pembeli lebih sedikit atau sebaliknya. Misalnya, maskapai penerbangan. Kesimpulannya, pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual-beli dan membentuk harga pasar yang disepakati antara keduanya. Jenis-jenis pasar ada berbagai macam sesuai kategorinya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Ya termasuk pasar karena namanya adalah pasar tempat untuk menjual dan membeli jadi pasar sayuran yang ada di atas gunung bisa disebut pasar karena ada aktivitas menjual dan membeli sayuran Sayur yang dijual di pasar. Sayur atau sayuran merupakan sebutan umum bagi bahan pangan nabati yang biasanya mengandung kadar air yang tinggi, yang dapat dikonsumsi setelah dimasak atau diolah dengan teknik tertentu, atau dalam keadaan segar.[one] [two] Istilah untuk kumpulan berbagai jenis sayur adalah sayur-sayuran atau sayur-mayur. Pengolahan sayur-mayur dapat dilakukan dengan cara beragam. Sayur merupakan makanan yang sehat untuk dikonsumsi. Sayuran berperan penting bagi manusia karena memiliki kandungan lemak dan karbohidrat yang rendah, tetapi tinggi vitamin, mineral dan serat makanan yang penting bagi kesehatan.[3] Banyak ahli gizi mendorong orang untuk mengkonsumsi banyak buah dan sayuran dengan merekomendasikan konsumsi lima porsi atau lebih dalam sehari.[4] [5] Awalnya, manusia mengumpulkan sayuran dari alam liar oleh pemburu-pengumpul sebelum adanya sistem pertanian.[6] Sayuran mulai dibudidayakan di beberapa bagian dunia, selama periode SM sampai SM.[7] Banyak petani pedesaan di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan di tempat lain mempraktikkan sistem pertanian ini untuk menghasilkan makanan yang cukup dan menukar hasil panen yang dipertukarkan dengan barang lain.[viii] Hal ini diiringi cara hidup mereka dengan mengembangkan pertanian baru. Pada awalnya, sistem pertanian dengan mengidentifikasi tumbuhan yang berguna diupayakan untuk tumbuh dan tumbuhan yang tidak diinginkan adalah produsen sayuran terbesar, dan perdagangan global produk pertanian memungkinkan konsumen untuk membeli sayuran yang ditanam di negara-negara yang jauh. Skala produksi bervariasi dari petani subsisten yang memasok kebutuhan pangan keluarga mereka, hingga agribisnis dengan areal luas tanaman produk tunggal.[9] Etimologi [sunting sunting sumber] Kata vegetable pertama kali tercatat di Inggris pada awal abad ke-15. Kata tersebut berasal dari bahasa Prancis Kuno yang awalnya digunakan untuk menyebut semua tanaman. Kata tersebut diserap bahasa Latin Abad Pertengahan vegetabile atau vegetabilis dari kata vegetō “berkembang” + -ābilis yang berarti “tumbuh, berkembang” yaitu tanaman.[10] [11] [two] Kata tersebut merupakan hasil perubahan semantik dari bahasa Latin Akhir yang berarti “menghidupkan, mempercepat.[2] Secara umum, kata sayur merupakan segala sesuatu yang berasal dari tumbuhan yang dapat tapi tidak harus dimasak, atau dengan kata lain disayur.[12] [thirteen] Istilah “sayur” tidak diberi batasan secara ilmiah. Sebagian besar sayur mencakup bagian-bagian vegetatif dari tumbuhan, yang umumnya berupa daun dan biasanya beserta tangkainya, tetapi dapat pula berupa batang muda mis. rebung, umbi batang mis. kentang atau umbi akar mis. wortel . Sementara yang lainnya berasal dari organ generatif, yang umumnya berupa polong-polongan mis. buncis dan kapri, tetapi dapat juga berupa bunga mis. kecombrang dan turi atau buah utuh misalnya terung dan tomat. Terdapat pula bagian-bagian khas dari beberapa tumbuhan yang juga tergolong sebagai sayur-sayuran, seperti tongkol jagung muda baby corn dan jantung pisang. Selain itu, cendawan atau jamur besar yang dapat dimakan juga digolongkan sebagai sayur, meskipun secara taksonomi bukan tumbuhan.[14] [fifteen] [16] Terminologi [sunting sunting sumber] Secara terminologi, “sayuran” dapat bervariasi karena banyak bagian tanaman yang ada di dunia, seperti akar, umbi-umbian, batang, daun, atau bagian bunga yang dapat dikonsumsi sebagai makanan. Dalam arti luas, istilah sayuran sebagai kata sifat berarti “berasal dari tumbuhan”. Secara khusus, istilah sayuran dapat didefinisikan sebagai “tumbuhan apapun yang bagiannya dapat dimakan”. [17] Kemudian dalam arti sekunder menjadi “bagian yang dapat dimakan dari tumbuhan”.[17] Definisi yang lebih tepat adalah “setiap bagian tanaman yang dapat dikonsumsi sebagai makanan kecuali buah atau biji, tetapi termasuk buah matang yang dimakan sebagai makanan utama”.[18] Selain dari definisi itu, jamur yang dapat dikonsumsi seperti jamur pangan dan rumput laut, walau bukan bagian dari tumbuhan, sering dikelompokkan sebagai sayuran.[19] [20] Dalam dunia kuliner, buah-buahan, meskipun mengandung banyak air, secara eksklusif dianggap terpisah dari kelompok sayur-sayuran terutama bagi buah-buahan yang rasanya manis. Definisi buah dalam dunia kuliner berbeda dengan buah dalam ilmu botani, sehingga beberapa makanan yang termasuk buah menurut ilmu botani, dianggap sebagai sayur dalam kuliner. Beberapa makanan tersebut sebagai contoh adalah terung, paprika, dan tomat.[21] Biji-bijian dan sebagian dari kacang-kacangan juga dianggap sebagai terpisah dari sayur-mayur. Beberapa bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber pengobatan, bumbu masak, atau rempah-rempah juga terkadang tapi tidak semua dianggap terpisah dari sayur-sayuran. Karena tradisi dan cara penyajian makanan yang berbeda di setiap negara, penggolongan sayur-mayur juga berbeda pada masing-masing negara. Misalnya, avokad yang sering dianggap sebagai sayur di negara-negara barat karena sering menjadi pendamping selada, tetapi dianggap buah di Indonesia karena sering dibuat sebagai jus. Sejarah [sunting sunting sumber] Manusia dulunya adalah pemburu-pengumpul sebelum adanya sistem pertanian. Mereka mencari bangkai hewan dan berburu untuk mendapatkan makanan. Mereka juga mencari buah-buahan, kacang-kacangan, batang, dedaunan, dan umbi-umbian yang dapat dimakan.[half dozen] Pertamanan hutan dengan membuka lahan di hutan tropis diyakini menjadi awal mula sistem pertanian dengan mengidentifikasi tumbuhan yang berguna diupayakan untuk tumbuh dan tumbuhan yang tidak diinginkan disingkirkan. Kemudian berikutnya dilakukan pemuliaan tanaman melalui pemilihan galur dengan sifat yang diinginkan seperti buah besar dan perkembangan yang kuat.[22] Kemudian bukti pertama domestikasi serealia seperti gandum dan barli ditemukan di Hilal Subur di Timur Tengah. Kemungkinan besar manusia di seluruh dunia mulai bertani antara pada SM hingga SM.[7] Banyak petani pedesaan di Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan di tempat lain mempraktikkan pertanian subsisten saat ini, menggunakan bidang tanah mereka untuk menghasilkan makanan yang cukup untuk keluarga mereka sambil memperdagangkan hasil panen yang berlebih untuk dipertukarkan dengan barang lain.[8] Sejarah mencatat, orang kaya telah mampu membeli makanan yang bervariasi seperti daging, sayuran, dan buah. Namun, daging adalah makanan mewah bagi orang miskin. Mereka hanya mengonsumsi makanan hambar yang sebagian besar terdiri dari beras, gandum hitam, gandum, barli, milet, atau jagung. Penambahan sayuran memberikan variasi pada makanan. Suku Aztec di Amerika Tengah menanam tomat, alpukat, kacang-kacangan, paprika, waluh, labu, kacang tanah, antara lain, untuk melengkapi tortilla dan bubur mereka. Suku Inca di Peru mengonsumsi jagung di dataran rendah dan kentang di dataran tinggi sebagai makanan pokok. Untuk melengkapi makanan mereka, mereka mengonsumsi biji kinoa, paprika, tomat, dan alpukat.[23] Di Cina kuno, makanan pokok di selatan adalah nasi, dan makanan pokok di utara adalah gandum, yang dibuat menjadi pangsit, mie, dan panekuk. Sayuran yang digunakan sebagai lauk antara lain ubi jalar, kedelai, kara oncet, lobak, daun bawang, dan bawang putih. Makanan pokok orang Mesir kuno adalah roti, yang sering terkontaminasi oleh pasir yang membuat gigi mereka terkikis. Daging merupakan makanan mewah, tetapi ikan masih cukup sering dikonsumsi. Kemudian dihidangkan dengan berbagai sayuran, termasuk zukini, kacang babi, lentil, bawang bombai, bawang prei, bawang putih, lobak dan selada.[23] Roti adalah makanan pokok di Yunani kuno, bersama dengan keju kambing, zaitun, buah ara, ikan, dan terkadang daging. Bawang bombai, bawang merah, bawang putih, kubis, melon, dan lentil termasuk sayuran yang dibudidayakan.[24] Di Romawi Kuno, mereka memakan Bubur kental dibuat dari gandum atau biji-bijian dengan lauk sayuran hijau tanpa daging dan ikan. Orang Romawi menanam kacang babi, kacang polong, bawang bombai, dan lobak, serta memakan daun bit, bukan akarnya.[25] Beberapa sayuran umum [sunting sunting sumber] Sayuran umum Gambar Jenis Bagian yang dikonsumsi Tanah asal Kultivar Brassica oleracea Brassicaceae daun, kuncup, batang, kepala bunga Eropa Kubis, Kubis brussel, Kembang kol, Brokoli, Kubis keriting, Kohlrabi, Kubis putih, Kubis merah, Kubis savoy, Brokoli Cina Kailan, Sawi hijau Brassica rapa akar, daun Asia Lobak cina, Kubis tiongkok, Sawi putih, Pakcoy bok choy Raphanus sativus akar, daun, polong biji, minyak biji, tunas Asia Tenggara Lobak, daikon, varietas polong biji Daucus carota akar, daun, batang Persia Wortel Pastinaca sativa akar Eurasia Ubi Beta vulgaris akar, daun Eropa dan Timur Dekat Akar Bit, Fleck Laut, Lobak Swiss, Flake Gula Lactuca sativa daun, batang, minyak biji Mesir Selada, Selada Batang Phaseolus vulgaris, Phaseolus coccineus, Phaseolus lunatus polong, biji Amerika Tengah dan Selatan Kacang Hijau, Kacang Perancis, Kacang Runner, Kacang Haricot, Kacang Lima Vicia faba polong, biji Mediterania dan Timur Tengah Kacang Panjang Pisum sativum polong, biji, kecambah Mediterania dan Timur Tengah Ercis, Kapri, Buncis Solanum tuberosum umbi-umbian Amerika Selatan Kentang Solanum melongena buah-buahan Asia Selatan dan Timur Terong Solanum lycopersicum buah-buahan Amerika Selatan Tomat Cucumis sativus buah-buahan Asia Selatan Ketimun Cucurbita spp. buah-buahan, bunga Mesoamerika Labu Allium cepa umbi, daun Asia Bawang, Bawang Bombai, Bawang Merah, Daun Bawang Allium sativum umbi Asia Bawang putih Allium ampeloprasum sarung daun Eropa dan Timur Tengah Daun Bawang, Bawang Putih Gajah Capsicum annuum buah-buahan Amerika Utara dan Selatan Paprika Spinacia oleracea dedaunan Asia Tengah dan Barat Daya Bayam, Bayam Jepang Dioscorea spp. umbi-umbian Afrika Tropis Yam Uwi Ipomoea batatas umbi, daun, pucuk Amerika Tengah dan Selatan Ubi Jalar Manihot esculenta umbi-umbian Amerika Selatan Singkong Ekologi tempat tumbuh [sunting sunting sumber] Tempat tumbuhnya sayuran secara ekologi dapat dibedakan menjadi tiga berdasarkan ketinggian tempat tumbuhnya dari permukaan laut.[26] Adapun ekologi tempat tumbuhnya yakni 1 Dataran rendah yang juga dikenal dengan dataran aluvial merupakan bentuk muka bumi yang relatif datar dan ada di daerah rendah yang mempunyai ketinggian kurang dari 350 meter di atas permukaan laut. Ciri khas kawasan dataran rendah adalah udaranya yang panas dan ketersediaan air cukup,[26] ii Dataran medium merupakan bentuk muka bumi pada dataran tempat tumbuhnya di daerah sedang dengan ketinggian antara 350 – 700 meter diatas permukaan laut. Tanah pada dataran tanah ini terbagi mejadi dataran medium andisol dan latosol,[27] dan 3 Dataran tinggi merupakan bentuk muka bumi dengan dataran luas dan terletak di daerah tinggi atau biasanya di pegunungan yang rendah dengan kisaran ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut. Dataran tinggi ini dicirkan dengan amplitudo suhu harian dan tahunan besar, kelembapan udara sangat rendah dan curah hujan rendah. Jenis tanah pada dataran tinggi dibagi menjadi 3 bagian, yaitu andisol, inceptisol dan entisol.[28] Ekologis tempat tumbuh sayuran sangat penting dalam pemberantasan hama yaitu memberantas gulma, hama atau penyakit dengan cara merubah lingkungan.[29] Dalam pemberantasan pengganggu ini biasanya digunakan zat kimia seperti pestisida nabati.[30] Jenis pestisida secara selektif dipilih yang paling efektif dan hanya mematikan jenis hama pengganggu atau penyakit sesuai sasaran dan mempunyai daya racun tinggi tanpa merusak tanaman yang dibudidayakan sehingga nutrisi tanaman sayur tetap terjaga.[29] Nutrisi dan kesehatan [sunting sunting sumber] Sayuran berperan penting bagi manusia karena memiliki kandungan lemak dan karbohidrat yang rendah, tetapi tinggi vitamin vitamin A, vitamin C, dan vitamin E, mineral dan serat makanan yang penting bagi kesehatan.[iii] Sayuran pada makanan dapat membantu penurunan kejadian kanker, stroke, penyakit kardiovaskular, dan penyakit kronis lainnya.[31] [32] Suatu penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan individu yang makan kurang dari tiga porsi buah dan sayuran di tiap hari, atau seseorang yang makan lebih dari lima porsi memiliki risiko terkena penyakit jantung koroner atau stroke akan lebih rendah yakni sekitar 20%.[33] Kandungan nutrisi pada sayuran sangat bervariasi, dapat mengandung sejumlah protein walau umumnya mengandung sedikit lemak,[34] dan dapat mengandung vitamin seperti vitamin A, vitamin C, kemudian provitamin, karbohidrat, serat, natrium, kalium, kalsium, zat besi, serta mineral lainnya.[35] Sayuran dapat dikonsumsi dengan cara beragam, baik sebagai hidangan utama seperti capcay atau tumis kangkung, hidangan pembuka dan penutup seperti salad, atau hidangan sampingan seperti kubis, semanggi pada makanan lalapan .[36] [37] [38] [39] Adapun cara pengolahan yakni melalui perebusan, pengukusan, penggorengan, penyangraian, penumisan atau pun dengan menambahkan atau mencampur dengan bahan makanan lain seperti dalam hidangan lalap dan selada.[xl] [41] [42] Di Amerika Serikat, buah dan sayuran, terutama sayuran hijau, telah dikaitkan dengan lebih dari setengah kejadian keseluruhan infeksi gastrointestinal yang disebabkan norovirus. Makanan ini biasanya dikonsumsi mentah dan dapat terkontaminasi selama proses pengolahan makanan.[43] [44] Saat menangani makanan mentah, kebersihan sangat penting, dan produk tersebut harus dibersihkan, ditangani, dan disimpan dengan benar untuk menghindari kontaminasi.[44] Rekomendasi [sunting sunting sumber] Konsumsi sayuran per kapita pada tahun 2013.[45] USDA merekomendasikan agar orang Amerika mengonsumsi lima hingga sembilan porsi buah dan sayuran per hari.[46] Jumlah keseluruhan yang dikonsumsi bervariasi menurut usia dan jenis kelamin, dan didasarkan pada ukuran porsi biasa serta komposisi nutrisi umum. Kentang tidak dihitung karena sebagian besar merupakan sumber pati. Satu porsi sebagian besar sayuran dan jus sayuran adalah setengah cangkir, yang bisa dimakan mentah atau dimasak. Satu porsi sayuran berdaun hijau, seperti selada dan bayam, biasanya satu cangkir penuh.[47] Karena tidak ada satu pun buah atau sayuran yang dapat memberikan semua nutrisi yang dibutuhkan untuk kesehatan yang baik, berbagai jenis makanan harus dipilih.[33] Produksi [sunting sunting sumber] Penanaman [sunting sunting sumber] Menanam sayuran di Afrika Selatan Sejak dahulu sayuran telah menjadi bagian dari makanan manusia yang bisa dikonsumsi.[48] Sayuran dapat berupa makanan pokok tetapi kebanyakan digunakan sebagai bahan tambahan dan penambah variasi pada makanan dengan cita rasa yang unik dan pada waktu bersamaan juga menambahkan nutrisi yang diperlukan untuk kesehatan.[49] [50] [51] Sistem budidaya penanaman mengikuti pola yang sama yakni one penyiapan atau pengolahan tanah untuk penanaman dengan menggemburkan tanah, kemudian menyiangi lahan,[52] 2 menaburkan kompos atau pupuk kandang,[53] [54] 3 Membuat lubang dan jarak tanaman, penyemaian benih serta penaburan benih,[55] 4 merawat tanaman muda saat tumbuh dengan mencegah pertumbuhan ilalang, mengendalikan hama, dan menyediakan air yang cukup untuk menjaga kelembapan tanah, v memanen hasil tanaman yang siap panen, dan 6 menyimpan ataupun memasarkan hasil panen atau memakannya selagi sayuran segar dari tanah.[56] Menyiangi tanaman kubis di Colorado, Equally Jenis tanah yang berbeda sesuai dengan tanaman yang berbeda dan cenderung lebih cocok di daerah beriklim sedang. Tanah berpasir cenderung mengering dengan cepat sehingga lebih platonic untuk tanaman di musim semi, sedangkan tanah liat berat cenderung menahan kelembapan yang lebih baik sehingga lebih ideal untuk tanaman di akhir musim. Penggunaan bulu domba, cloches, mulsa plastik, polytunnels, dan rumah kaca dapat memperpanjang musim pertumbuhan. Iklim, khususnya pola curah hujan, membatasi produksi sayuran di lokasi yang lebih panas, sedangkan suhu dan panjang hari membatasi produktivitas di zona beriklim sedang.[57] Dalam skala kecil, sekop, garpu tanah, dan cangkul adalah alat pilihan, sedangkan pertanian komersial memiliki akses ke berbagai peralatan mekanis. Diantaranya, selain traktor juga termasuk bajak, garu, bor, transplanter, kultivator, peralatan irigasi, dan pemanen.[58] [59] Dengan sistem pemantauan komputer, pencari GPS, dan program cocky-steer untuk robot otonom, teknik baru merevolusi operasi budidaya yang terlibat dalam menanam sayuran, memberikan manfaat ekonomi.[59] Panen [sunting sunting sumber] Panen merupakan istilah umum yang digunakan dalam kegiatan bercocok tanam dan menandai berakhirnya kegiatan di sebuah lahan. Namun, istilah ini memiliki arti yang lebih luas, karena dapat dipakai pula dalam budi daya ikan atau berbagai jenis objek usaha tani lainnya, seperti jamur, udang, alga atau gulma laut, dan hasil hutan kayu maupun non-kayu.[lx] [61] [62] Panen dapat dilakukan dengan dua metode pemanenan keseluruhan full dan pemanenan sebagian selektif.[63] Jangka waktu dari pemanenan didasarkan pada pertumbuhan tiap tanaman. Apabila tanaman semakin subur, maka waktu panen akan semakin cepat.[64] Memanen chip di Inggris Raya Sumber air dan makanan sayuran terputus saat dipanen. Itu terus terjadi, kehilangan kelembapan dalam prosesnya, seperti yang terlihat pada layunya tanaman berdaun hijau.[65] Sayuran umbi-umbian memiliki masa simpan yang lebih lama jika dipanen saat masak sepenuhnya, tetapi mereka juga dapat dibiarkan di tanah dan dipanen seiring waktu. Pemanenan harus dilakukan dengan cara yang tidak merugikan tanaman untuk mencegah rusaknya tanaman sehingga perlunya penanganan pascapanen, yang dapat mencegah kerusakan material melalui pengawetan, penyimpanan yang teratur, dan pendinginan, disorot di sini. Karena bahan memiliki sifat yang mudah rusak. Hal inilah sehingga dibutuhkan penanganan pascapanen yang dilakukan dengan hati-hati.[66] Bawang bombai, bawang merah dan bawang putih dapat dikeringkan di ladang selama beberapa hari, sedangkan tanaman umbi-umbian seperti kentang mendapat manfaat dari tahapan pematangan secara singkat dalam kondisi hangat dan lembap serta kulit menebal dan mengeras. Penilaian harus dilakukan sebelum penjualan atau penyimpanan untuk membuang barang yang rusak dan memilih produk berdasarkan kualitas, ukuran, kematangan, dan warna.[67] Penyimpanan [sunting sunting sumber] Perawatan pascapanen yang tepat bermanfaat bagi semua sayuran. Selama periode penyimpanan, sebagian besar sayuran dan makanan yang mudah rusak akan membusuk.[68] [69] Di negara-negara berkembang tanpa fasilitas penyimpanan dingin yang memadai, kerugian ini bisa mencapai tiga puluh hingga lima puluh persen. Kerusakan ini disebabkan oleh jamur, mikroorganisme, dan hama yang mempengaruhi kelembapan.[lxx] Penyimpanan sementara kentang di Belanda Penyimpanan jangka pendek dan jangka panjang keduanya merupakan sebagian besar sayuran mudah rusak, penyimpanan jangka pendek selama beberapa hari memungkinkan fleksibilitas penjualan.[71] [72] Sayuran berdaun kehilangan kelembapannya selama penyimpanan, dan vitamin C di dalamnya terdegradasi dengan cepat. Beberapa produk, seperti kentang dan bawang, tetap baik dan dapat dijual ketika harga yang lebih tinggi tersedia; dengan memperpanjang musim penjualan, volume total hasil panen yang lebih besar dapat dijual. Sebagian besar tanaman memprioritaskan penyimpanan makanan berkualitas tinggi, mempertahankan tingkat kelembapan yang tinggi, dan menjaga produk di tempat teduh jika penyimpanan berpendingin tidak tersedia.[67] Aplikasi rantai dingin yang efektif adalah faktor terpenting dalam penyimpanan pascapanen yang tepat yang bertujuan untuk memperpanjang dan mempertahankan umur simpan sehingga komoditas pangan terjaga.[73] [74] Sayuran termasuk kembang kol, terong, selada, lobak, bayam, kentang, dan tomat mendapat manfaat dari penyimpanan dingin, dengan suhu platonic yang bervariasi berdasarkan varietas tanaman. Pendinginan evaporatif adalah contoh teknologi pengontrol suhu yang tidak memerlukan penggunaan listrik. Perkembangan mikroba dapat dihambat dan umur simpan diperpanjang dengan menyimpan buah-buahan dan sayuran di lingkungan yang terkendali dengan jumlah karbon dioksida atau oksigen yang tinggi.[75] Sayuran dan produk pertanian lainnya dapat diiradiasi dengan radiasi pengion untuk melindunginya dari infeksi mikroba dan kerusakan serangga, serta kerusakan fisik. Ini memiliki kemampuan untuk memperpanjang umur penyimpanan makanan tanpa mempengaruhi karakteristiknya.[76] Pengawetan [sunting sunting sumber] Sayuran diawetkan untuk memperpanjang umur simpannya sehingga bisa dimakan atau dijual. Tujuannya adalah untuk memanen makanan yang paling enak dan sehat, dan untuk menjaga kualitas makanan selama mungkin. Penyebab utama kerusakan pada sayuran setelah panen adalah aktivitas enzim yang terjadi secara alami dan pembusukan yang disebabkan oleh mikroba. Pengalengan dan pembekuan adalah cara yang paling umum, dan sayuran yang diawetkan dengan cara ini memiliki nilai gizi yang sebanding dengan sayuran segar dalam hal karotenoid, vitamin E, mineral, dan serat makanan.[77] Enzim dalam sayuran dinonaktifkan dan mikroorganisme yang ada dihancurkan oleh panas selama proses pengalengan. Kaleng yang terutup rapat dapat mengeluarkan udara dari makanan untuk mencegah makanan membusuk. Untuk menghindari kerusakan mekanis pada produk dan untuk mempertahankan rasa sebanyak mungkin, digunakan panas terendah yang diperlukan dan waktu pemrosesan terpendek. Setelah itu, kaleng dapat disimpan pada suhu kamar untuk waktu yang lama.[78] Untuk waktu yang singkat, membekukan sayuran dan menjaga suhunya di bawah -10°C 14°F dapat menghindari pembusukan, meskipun penyimpanan jangka panjang memerlukan suhu -eighteen°C 0°F. Kerja enzim yang ada pada sayuran akan dihambat, dan blansing dapat digunakan sebagai teknik memasak sayuran siap saji dengan ukuran yang sesuai sebelum pembekuan sehingga menghindari cita rasa kurang enak. Pada suhu tersebut, tidak semua bakteri akan dihilangkan, oleh karena itu sayuran harus digunakan sesegera mungkin setelah dicairkan. Jika tidak, mikroba apa pun yang ada dapat tumbuh.[79] Tomat yang dikeringkan dengan sinar matahari di Yunani Beberapa sayuran, seperti tomat, jamur, dan kacang-kacangan, secara tradisional dikeringkan di bawah sinar matahari, dengan buah direntangkan di atas rak dan dibalik secara berkala. Pendekatan ini memiliki berbagai kelemahan, termasuk ketidakmampuan untuk mengontrol laju pengeringan, pembusukan saat pengeringan yang lamban, kontaminasi oleh kotoran, kebasahan hujan, dan serangan hewan pengerat, burung, dan serangga. Pengering bertenaga surya dapat membantu mengurangi kelemahan ini. Selama penyimpanan, makanan kering harus dijaga agar tidak menyerap kembali kelembapan.[seventy] Negara penghasil terbesar [sunting sunting sumber] Cina menjadi sebuah negara penghasil sayuran terbesar dengan lebih dari setengah produksinya di dunia. Kemudian diikuti India, Amerika Serikat, Turki, Iran, dan Mesir adalah produsen terbesar berikutnya. Cina mempunyai lahan terluas dikhususkan untuk produksi sayuran, sedangkan rata-rata hasil panen per hektare tertinggi diperoleh di Spanyol dan Korea Selatan.[9] Negara Area yang dibudidayakan dalam ribu hektare hektare Menghasilkan dalam ribu kg/ha 890 lb/hektare Produksi dalam ribu ton ton pendek Cina 230 Republic of india 138 Amerika Serikat 318 Turki 238 Iran 767 261 Mesir 755 251 Italy 537 265 xiv,201 Rusia 759 175 Spanyol 348 364 12,679 Meksiko 681 184 Nigeria 1844 64 xi,830 Brazil 500 225 Jepang 407 264 Indonesia 1082 90 Korea Selatan 268 364 Vietnam 818 110 Ukraina 551 162 Uzbekistan 220 342 7,529 Filipina 718 88 Perancis 245 227 5,572 Dunia full 188 Standar keamanan [sunting sunting sumber] Alasan keamanan, CDC merekomendasikan penanganan buah dan sayuran yang tepat untuk mengurangi risiko kontaminasi makanan dan keracunan makanan. Pilih buah dan sayuran segar dengan hati-hati. Di toko, sayuran dan buah-buahan tidak boleh rusak, dan sayuran yang tidak dipotong harus didinginkan atau dikelilingi dengan es batu. Buah dan sayuran harus dicuci sebelum dimakan. Semua ini harus dilakukan dengan benar sebelum memasak atau makan untuk menghindari efek negatif.[lxxx] Buah-buahan dan sayuran harus disimpan secara terpisah dari makanan mentah seperti daging, unggas, dan makanan laut dan semua peralatan atau permukaan memasak seperti talenan yang mungkin bersentuhan dengannya. Buah dan sayuran, jika tidak dimaksudkan untuk dimasak, harus dibuang jika terkena daging mentah, unggas, makanan laut, atau telur. Semua buah dan sayur yang telah dipotong, dikupas, atau dimasak harus didinginkan dalam waktu 2 jam. Setelah waktu tertentu, bakteri berbahaya dapat tumbuh dan meningkatkan risiko keracunan makanan.[81] Organisasi Standardisasi Internasional ISO menetapkan beberapa standar internasional untuk memastikan bahwa produk dan layanan yang berhubungan dengan buah-buahan dan sayur-sayuran aman, terpercaya, dan berkualitas baik.[82] ISO 1991-ane1982 mendaftar nama ilmiah dari 61 spesies yang umum dijadikan sebagai sayur beserta nama umumnya dalam Bahasa Inggris, Prancis, dan Rusia.[83] ISO memberikan panduan mengenai penyimpanan dan pengangkutan sayuran dan produk turunannya.[84] Referensi [sunting sunting sumber] ^ Indonesia Arti kata sayur dalam situs web Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. ^ a b c Harper, Douglas. “vegetable”. Online Etymology Dictionary . Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ a b Ülger, Taha Gökmen., Songur, Ayşe Nur., Çırak, Onur., & Çakıroğlu, Funda Pınar. 2018. “Part of Vegetables in Man Diet and Disease Prevention”. . Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ “Ketahui Anjuran Ahli Gizi Terkait Pola Makan Sehat dan Tepat”. . Diakses tanggal 2022-01-twenty . ^ “Studi 5 Porsi Buah dan Sayur Tiap Hari Buat Panjang Umur”. . Diakses tanggal 2022-01-twenty . ^ a b Portera, Claire C.; Marlowe, Frank W. 2007. “How marginal are forager habitats?”. Journal of Archaeological Science. 34 one 59–68. doi ^ a b “The Evolution of Agriculture”. National Geographic. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-04-14. Diakses tanggal 2022-01-07 . ^ a b Wharton, Clifton R. 1970. Subsistence Agriculture and Economic Development. Transaction Publishers. hlm. 18. ISBN 978-0-202-36935-8. ^ a b “Table 27 Top vegetable producers and their productivity” PDF. FAO Statistical Yearbook 2013. Nutrient and Agriculture Organization of the United Nations. hlm. 165. Diakses tanggal 2015-09-fourteen . ^ “vegetabilis/vegetabile”. . Diakses tanggal 2022-01-xx . ^ “vegetabilis Latin”. . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ Sari, Vonny Indah; Susi, Neng; Rizal, Muhammmad 2021. “Pelatihan Pengolahan Sayuran Menjadi Makanan dan Minuman Sehat di Kelurahan Balai Raja Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis”. iii 70. ISSN 2746-2412. ^ “Jenis-Jenis Sayuran yang Aman Dimakan Mentah dan Kaya Nutrisi”. . Diakses tanggal 2022-01-xx . ^ Tantalu, Lorine; Rahmawati, Atina; Setiyawan, Ahmad Iskandar; Sasongko, Pramono; Ahmadi, Kgs.; Mushollaeni, Wahyu; Santoso, Budi; Wirawan 2017. Rekayasa Pengolahan Produk Agroindustri. Dki jakarta Selatan Media Nusa Artistic MNC Publishing. hlm. vi. ISBN 9786026397805. ^ Rio, Handziko C.; Narulita, Roesma; Fahmi, Fajrin; Digdo, Akbar A.; Wijayanto, Agustinus; Surbakti, Rudianto; Erawan, Ma’ruf 2018. Modul Pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup PDF. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Yayasan Kanopi Indonesia. hlm. 36. ISBN 9786239110703. ^ “Fungi vegetables”. Spices & Medicinal Herbs Classification of vegetables. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 2015-03-24 . ^ a b “Vegetable”. Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ Sinha, Nirmal; Hui, Evranuz, E. Özgül; Siddiq, Muhammad; Ahmed, Jasim 2010. Handbook of Vegetables and Vegetable Processing. John Wiley & Sons. hlm. 192, 352. ISBN 978-0-470-95844-5. ^ Astuti, Novi Fuji 2022. “ten Jenis Jamur yang Enak dan Aman Dikonsumsi”. . Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ Ramdhani, Gilar 2021-09-28. “Dikenal Sebagai Sayuran Super, Inilah Sederet Khasiat Rumput Laut Bagi Tubuh”. . Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ Toman sebagai buah atau sayur pernah menjadi perdebatan hingga menjadi persengketaan yang diurus dalam Mahkamah Agung Amerika Serikat pada tahun 1893. Nix five. Hedden, 149 south. 304 1893. ^ Douglas John McConnell 1992. The woods-garden farms of Kandy, Sri Lanka. hlm. 1. ISBN 978-92-5-102898-8. ^ a b Lambert, Tim. “A brief history of Food”. Diakses tanggal 2022-01-07 . ^ Apel, Melanie Ann 2004. Country and Resource in Ancient Greece. Rosen Publishing Group. hlm. ten. ISBN 978-0-8239-6769-8. ^ Forbes, Robert James 1965. Studies in Ancient Technology. Brill Annal. hlm. 99. ^ a b Susilawati 2017. MENGENAL SAYURAN DAN TANAMAN Prospek dan Pengelompokkan PDF. Palembang Universitas Sriwijaya Press Unsri Press. hlm. 21. ISBN 979-587-964-2. ^ Susilawati 2017. MENGENAL SAYURAN DAN TANAMAN Prospek dan Pengelompokkan PDF. Palembang Universitas Sriwijaya Press Unsri Printing. hlm. 22. ISBN 979-587-964-2. ^ Susilawati 2017. MENGENAL SAYURAN DAN TANAMAN Prospek dan Pengelompokkan PDF. Palembang Universitas Sriwijaya Printing Unsri Press. hlm. 23. ISBN 979-587-964-ii. ^ a b Susilawati 2017. MENGENAL SAYURAN DAN TANAMAN Prospek dan Pengelompokkan PDF. Palembang Universitas Sriwijaya Press Unsri Press. hlm. 59. ISBN 979-587-964-ii. ^ Susilawati 2017. MENGENAL SAYURAN DAN TANAMAN Prospek dan Pengelompokkan PDF. Palembang Universitas Sriwijaya Press Unsri Printing. hlm. 58. ISBN 979-587-964-2. ^ “Vegetables”. Infotech Portal. Kerala Agricultural University. Diakses tanggal 2015-03-24 . ^ Terry, Leon 2011. Health-Promoting Properties of Fruits and Vegetables. CABI. hlm. ii–4. ISBN 978-1-84593-529-0. ^ a b “Vegetables and Fruits”. Harvard Schoolhouse of Public Health. 2012-09-eighteen. Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ Li, Thomas 2008. Vegetables and Fruits Nutritional and Therapeutic Values. CRC Printing. hlm. 1–2. ISBN 978-1-4200-6873-3. ^ P2PTM Kemenkes RI 2018. “Nutrisi dalam Sayur-sayuran”. . Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ Tandra, Hans 2022. Diabetes Bisa Sembuh Tanpa Obat. Yogyakarta Penerbit Andi. hlm. 58. ISBN 9786236822166. ^ Tim Ide Masak 2013. Seri Penganan Jadul Tetap Favorit Salad & Dessert. Gramedia Pustaka Utama. hlm. ane. ISBN 9789792294682. ^ Marsden, Kathryn 2008. The Cmplete Food Combning. Bandung Mizan Publika. hlm. 61. ISBN 9789793269726. ^ Budjang, Ibrahim 1994. Makanan wujud, variasi dan fungsinya serta cara penyajiannya pada orang Melayu, Jambi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat. hlm. 137. ISBN 9789793269726. ^ Winarto, Tim Lentera 2004. Memanfaatkan Tanaman Sayur Untuk Mengatasi Aneka Penyakit. Agromedia Pusaka. hlm. 63. ISBN 979-3357-83-five. ^ Setiarto, Haryo Bimo 2021. Memanfaatkan Tanaman Sayur Untuk Mengatasi Aneka Penyakit. Guepedia. hlm. 39. ISBN 9786232708853. ^ Mirna 2021-09-09. “SAYURAN Dapat Diolah Selain Menjadi Makanan Juga Dapat Menjadi Minuman Sehat yang Banyak Mengandung?”. . Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ “three Contoh Makanan Tercemar”. . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ a b Centers for Affliction Command and Prevention 2013. “Attribution of Foodborne Disease, 1998–2008”. Estimates of Foodborne Affliction in the United States. 19 3. ^ “Vegetable consumption per capita”. Our World in Information . Diakses tanggal 5 March 2022. ^ Fabulous fruits… versatile vegetables. United States Department of Agriculture. Diakses tanggal 2022-01-07. ^ “What is a serving?”. American Heart Association. 2014-12-xviii. Diakses tanggal 2022-01-07 . ^ “Vegetables and Fruits”. dalam bahasa Inggris. Diakses tanggal 2022-01-04 . ^ Sugiarto, R. Toto; dkk 2016. Ensiklopedi Kesehatan 2 Makanan dan Gizi. Bandung Kubu Buku. hlm. 8. ISBN 978-602-61128-vii-3. ^ Wahyuningsih 2022. Pengolahan Makanan Nusantara. Sleman, Yogyakarta Deepublish. hlm. 25. ISBN 9786230221439. ^ Saktika, Gadis 2022. “7 Makanan Awetan Nabati Paling Banyak Dicari. Bisa Dibuat Di Rumah!”. world wide . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ Amarullah; Mardhiana; Willem; Chairiyah, Nurul 2021. Dasar Agronomi. Banda Aceh Universitas Syiah Kuala Press. hlm. 123. ISBN 9786232642751. ^ “Langkah-Langkah Pengomposan Sampah Organik Sisa Kegiatan Dapur”. . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ Ikrama, Alim Hajar 2022-09-08. “five Tips Penting Menggunakan Kompos, Biar Tanaman Makin Subur”. portaljember . Diakses tanggal 2022-01-xx . ^ “Budidaya Sayuran di Lahan Pekarangan”. . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ “Langkah-langkah Menanam Sayur di Pekarangan”. Pemerintah Kabupaten Buleleng, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan. 2022-07-01. Diakses tanggal 2022-01-02 . ^ Midmore, David J. 2015. Principles of Tropical Horticulture. CABI. hlm. 36. ISBN 9781780645414. ^ Moens, A.; Siepman, 1984. Development of the agricultural equipment manufacture in developing countries dalam bahasa Inggris. Pudoc Wageningen. hlm. 77. ISBN 9022008649. ^ a b Stevens, Donovan; Ware, Daxton 2018. Biotechnology of Horticultural Crops dalam bahasa Inggris. Scientific e-Resources. hlm. 154. ISBN 9781839471827. ^ “Panen Kayu Manis Cinnamomum zeylanicum”. Kementerian Pertanian Republik Republic of indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-08-06. Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ “Dam Bengawan Solo Ditutup, Warga Panen Ikan”. Senin, 14 Oktober 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-x-24. Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ Gunawan, Hendra 2013-06-thirteen. “Jamur Tiram, Sekali Panen Dapat Rp . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ Asyari Hasbullah, Umar Hafidz; dkk 2021. Kopi Indonesia. Medan Yayasan Kita Menulis. hlm. 36. ISBN 9786233423250. ^ Hendra, Heru Agus; Andoko, Agus 2014. Bertanam Sayuran Hidroponik Ala Paktani Hydrofarm. AgroMedia Pustaka. hlm. 108. ISBN 979-006-517-5. ^ “Harvesting Vegetables”. 2022. Diakses tanggal 2022-01-xx . ^ Samad, Thou. Yusuf 2006. “Pengaruh Penanganan Pasca Panen Terhadap Mutu Komoditas Hortikultura” PDF. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. 8 ane 31. doi ^ a b Dixie, Grahame 2005. “8. Post-harvest handling Storage”. Horticultural Marketing. FAO. Diakses tanggal 2022-01-07 . ^ Yahya Hiola, Sitti Khadijah 2018. Teknologi Pengolahan Sayuran. Makassar, Sulawesi Selatan Inti Mediatama. hlm. 19. ISBN 9786025222580. ^ Asiah, Nurul; Nurenik; David, Wahyudi; Djaeni, Mohamad 2022. Teknologi Pascapanen Bahan Pangan. Sleman, Yogyakarta Deepublish. hlm. 129. ISBN 9786230217357. ^ a b Garg & Prakash; Garg, 2000. Solar Energy Fundamentals and Applications. Tata McGraw-Loma Education. hlm. 191. ISBN 978-0-07-463631-two. ^ Sulaeman, Ahmad 2017. Prinsip-Prinsip HACCP dan Penerapannya pada Industri Jasa Makanan dan Gizi. Bogor IPB Press. hlm. 52. ISBN 9786024408879. ^ Harjadi, Sri Setyati 2019. Dasar-Dasar Agronomi. Gramedia pustaka utama. hlm. 79. ISBN 9786020613802. ^ “Cold Concatenation intervention for fruits and vegetables distribution in India”. . Diakses tanggal 2022-01-20 . ^ Dewan Guru Besar IPB 2016. Pangan untuk Kesejahteraan Masyarakat. Bogor IPB Press. hlm. Pendahuluan. ISBN 9786232562110. ^ Thompson, A. Keith 2010. Controlled Temper Storage of Fruits and Vegetables. CABI. hlm. 18. ISBN 978-1-84593-647-1. ^ de Zeeuw, Dick. “Use of nuclear energy to preserve homo’s food” PDF. International Atomic Free energy Agency. Diakses tanggal 2015-03-22 . ^ Rickman, Joy C.; Bruhn, Christine 1000.; Barrett, Diane Thou. 2007. “Nutritional comparing of fresh, frozen, and canned fruits and vegetables II. Vitamin A and carotenoids, vitamin Eastward, minerals and fiber” PDF. Journal of the Science of Food and Agronomics. 87 7 1185–96. doi ^ Stevens, Donovan; Ware, Daxton 2018. Biotechnology of Horticultural Crops. Scientific east-Resources. hlm. 155. ISBN 9781839471827. ^ Hui, Ghazala, Sue; Graham, Dee Chiliad.; Murrell, Nip, Wai-Kit 2003. Handbook of Vegetable Preservation and Processing. CRC Press. hlm. 286–90. ISBN 978-0-203-91291-1. ^ Pininta, Ayunda 2016. “5 Cara Cegah Keracunan Makanan”. . Diakses tanggal 2022-01-07 . ^ “Begini Ternyata Cara Menyajikan Makanan Sehat yang Benar Agar Kesehatan Selalu Terjaga”. 2019. Diakses tanggal 2022-01-07 . ^ “ Fruits. Vegetables”. International Organization for Standardization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-25. Diakses tanggal 2009-04-23 . ^ “ISO 1991-ane1982 Vegetables – Classification”. International Organization for Standardization. Diakses tanggal 2015-03-twenty . ^ “ Vegetables and derived products”. International System for Standardization. Diakses tanggal 2015-03-20 . Lihat pula [sunting sunting sumber] Daftar sayur

pasar sayuran di daerah pegunungan termasuk pasar